Terkait konflik antara harimau dengan manusia yang sering terjadi di beberapa daerah, Kepala BKSDA Sumatera Barat, Erly Sukrismanto mengemukakan hal itu disebabkan oleh banyak faktor, seperti belajar berburu karena baru berpisah dari induknya.
"Ketika harimau berpisah dari induknya, maka mereka harus mulai berburu sendiri sehingga berpotensi untuk memangsa manusia atau hewan ternak yang diikat di dekat hutan," katanya.
Kemudian penyebab lainnya, wilayah jelajah harimau yang semakin sedikit dan mangsanya juga tidak ada sehingga mereka masuk ke permukiman masyarakat.
Wilayah jelajah harimau cukup luas untuk berburu, mencapai 60 kilometer persegi, sehingga ketika tempat berburunya sudah semakin kecil atau rusak, maka mereka akan mencari alternatif dan terjadilah konflik tersebut.
Kemudian, misalnya pada 10 tahun lalu tempat tersebut adalah hutan, tetapi saat ini beralih fungsi menjadi permukiman atau ladang penduduk, maka satu waktu harimau pasti akan kembali lagi ke tempat itu.
"Hal tersebut dinamakan home range, mereka akan mengingat tempat-tempat yang pernah dijelajahinya dahulu, namun ketika kembali ke tempat tersebut, harimau tidak akan tinggal dalam waktu yang lama, hanya sekitar tiga sampai empat hari," ujarnya.
Simak video pilihan berikut ini: